KEN SETIAWAN : CEGAH FAHAM RADIKAL LEWAT KEGIATAN POSITIF DI SEKOLAH

By WinetSeven 12 Nov 2019, 19:38:34 WIB Nasional
KEN SETIAWAN : CEGAH FAHAM RADIKAL LEWAT KEGIATAN POSITIF DI SEKOLAH

Selasa (29/10), kegiatan Diseminasi Program Pembinaan Peserta Didik SMA turut menghadirkan narasumber dalam menyajikan materi yang berkaitan dengan penyelesaian masalah kekerasan dan prilaku menyimpang pada remaja. Salah satunya, Ken Setiawan, mantan pendiri NII (Negara Islam Indonesia) yang kini aktif dalam NII Crisis Center. Ken membeberkan kepada para guru bagaimana faham radikal dapat mempengaruhi para pelajar dan cara menangkalnya.

Pendidikan bukan hanya mengembangkan aspek kognitif. Idealnya, pendidikan mampu membantu perkembangan manusia seutuhnya, meliputi fisik, psikologis, sosial, dan religius. Sekolah merupakan salah satu tempat bagi anak dan remaja untuk tumbuh dan berkembang bersama dengan keluarga dan lingkungan. Sekolah diharapkan mampu mendukung perkembangan anak dan remaja secara utuh dan seimbang.

Namun di sisi lain, tak sedikit anak dan remaja yang setiap hari bergulat dengan berbagai permasalahan. Tidak jarang muncul berbagai permasalahan kesiswaan, misalnya tindak kekerasan, perkelahian antar pelajar, bullying, masuknya paham radikal kepada siswa, penyimpangan perilaku seksual, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain.

Berkaitan dengan permasalahan radikalisme di kalangan siswa, Ken Setiawan seorang mantan pendiri kelompok Negara Islam Indonesia (NII) mengatakan, bahwa sasaran rekrutmen NII sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa. Bahkan dari data NII Crisis Center tentang pelaporan masyarakat, korban perekrutan kelompok radikal 60% adalah dari kalangan pelajar, 25 % Kalangan Mahasiswa, 17 % Kalangan Buruh dan 13 % umum. Artinya kalangan pelajar dan mahasiswa cukup besar potensinya, mengingat disanalah pusat ide dan gagasan. “Kenapa generasi muda menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal dan terorisme? Remaja masih memiliki karakter yang labil dan masih dalam pencarian jati diri. Usia remaja rentan terhadap masuknya pengaruh dari luar, termasuk radikal,” tandas Ken Setiawan.

Ken membeberkan pola dan cara yang biasa dipakai kelompok-kelompok radikal anti NKRI saat merekrut anggotanya. Salah satu cara yang dipakai adalah dengan mencuci otak sasaran yang akan direkrut. Ia mencontohkan model perekrutan oleh NII, sebagaimana yang pernah ia lakukan beberapa tahun silam. Sebelum merekrut, akan dilakukan 'screening' terlebih dahulu terhadap orang yang akan direkrut. "Kita pelajari aktivitas kesehariannya, pekerjaannya apa, bagaimana keluarganya, hobinya apa, dan sebagainya. Dengan mengetahui berbagai latar belakang calon target, maka proses perekrutan akan lebih mudah. Termasuk bagaimana menentukan model perekrutan,” ungkapnya.

 

Ken mengajak para guru agar waspada terhadap faham radikalisme di kalangan siswa. Cara mengantisipasi terjerumusnya anak muda ke dalam faham radikal adalah dengan mengalihkan mereka pada kegiatan-kegiatan yang lebih positif. “Anak-anak muda jadi lebih terarah dengan memperbanyak kegiatan positif, apa yang disukai oleh anak muda agar diberi wadah. Kalau perlu kegiatannya digelar berkelanjutan, tidak hanya seremonial sehingga tidak ada lagi waktu luang bagi mereka untuk mengarah ke faham radikal, narkoba, dan kenakalan remaja lainnya.” Katanya.

 

Bagi Ken Setiawan, Nasionalisme bukan hanya muncul ketika budaya kita di klaim negara tetangga, tapi nasionalisme adalah merasa ada musuh dan merasa terancam, jadi kita harus waspada. “Ancaman yang siap menerkam generasi muda kita sudah jelas, mulai radikalisme, narkoba, pornografi. dll. Bila kita tidak waspada maka bisa keluarga dan orang terdekat dilingkungan kita bisa menjadi korbannya.”

 

Sumber : https://psma.kemdikbud.go.id/index/news_detail.php?id=MTU0MA==




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment