Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

By WinetSeven 19 Nov 2019, 00:25:17 WIB Nasional
Komunitas Anak Alam, Penjaga Mimpi Bocah Putus Sekolah

Setiap manusia di muka bumi ini pasti memiliki cita-cita dan harapan. Dan, salah satu harapan itu adalah mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah paling tinggi. Setidaknya, dengan mengenyam pendidikan tinggi kita memiliki bekal untuk masa depan kita.

Namun tak sedikit mereka yang terpaksa mengubur dalam-dalam asa mereka lantaran tak memiliki biaya untuk menempuh pendidikan. Putus sekolah di usia dini rupanya menjadi momok bagi mereka. Tak terkecuali di Bali, khususnya di Kabupaten Bangli.

Melihat banyaknya anak putus sekolah lantaran keterbatasan ekonomi orangtua mereka, Putu Pande Setiawan tergerak. Ia mendirikan Komunitas Anak Alam. Komunitas itu ia dirikan untuk memberi pendidikan alternatif kepada anak-anak putus sekolah di Kabupaten Bangli.

BACA JUGA
Kisah Guru Berbayar Ketela di Sekolah Alam Pinggir Hutan Banyumas
Safari Ramadan ke Sekolah Alam Luar Biasa di Luwuk Timur
Berbagi Kebaikan Lewat Sekolah Alam Gratis Dik Doank
Namun dalam perkembangannya, komunitas yang didirikan oleh Pande memberikan beasiswa kepada anak-anak tersebut, minimal hingga SMA/SMK. Beberapa di antaranya beruntung mampu mengenyam perguruan tinggi.

Kepada Liputan6.com, Pande bercerita awal mula ia tergerak membentuk Komunitas Anak Alam.

"Setiap orang memiliki mimpi, demikian juga saya. Di antaranya mungkin dapat mengenyam pendidikan yang baik. Dan saya beruntung mendapatkannya, dengan susah payah tentunya," kata Pande membuka perbincangan, Sabtu (2/11/2019).

Pande menamatkan pendidikan perguruan tinggi di STT Telkom Bandung. Kemudian ia melanjutkan studi S2 Magister Manajenen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dari sana ia mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke University of Victoria Kanada.

Suatu ketika, Pande pulang ke rumah almarhum orangtuanya yang merupakan pensiunan pekerja medis di Kintamani, Bangli. Ketika ia sedang jalan-jalan ke pelosok pedesaan di perbukitan, ia bertemu anak-anak yang tidak seberuntung dirinya dalam hal pendidikan.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment